Kamis, 17 April 2014

Pemilu Sebagai Hak Warga Negara



Demokrasi berasal dari bahasa  Yunani yaitu “demos” artinya rakyat dan “kratos” artinya kekuasaan atau kekuatan.Pengertian demokrasi menurut Abraham Lincoln adalah pemerintahan dari rakyat,oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang mengakui kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat dan rakyat memiliki hak setara untuk menentukan keputusan yang dapat mengubah hidupnya. Dalam hal ini kedaulatan rakyat diwakilkan melalui lembaga perwakilan legislatif.
Menurut UU No. 3 Tahun 1999 Pemilu merupakan sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Terdiri dari pemilihan lembaga legislatif dan eksekutif. Lembaga legislatif terdiri dari DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota. Sedangkan Lembaga eksekutif disini dimaksudkan adalah pemerintah yaitu Presiden-Wakil presiden, Gubernur-Wakil Gubernur, dan Bupati/walikota.

Pemilu legislatif 2014 pada tahapan pelaksanaannya banyak disalahartikan  yaitu menjadi sarana untuk menduduki suatu jabatan sosial dan mencapai suatu kekuasaan politik. Fenomena yang terjadi di masyarakat per hari ini, banyak calon legislatif yang berlomba-lomba dan menghalalkan berbagai cara untuk dapat memenangkan suara dalam pemilu. Mulai dari mengkomersialkan janji, memberikan komoditi hingga money politic yang sering kita sebut black campaign.

Jika kita lihat dari sisi masyarakat, begitu banyak masyarakat yang bingung terhadap banyaknya calon legislatif dari 12 partai yang mencalonkan diri dan tidak paham mengenai track recordnya. Hal ini yang menjadi salah satu faktor pendorong banyak masyarakat yang memilih untuk golput. Dalam pelaksanaan Pemilu Presiden 2009, jumlah warga yang tidak menggunakan hak pilihnya alias golput sebesar 49.677.776 atau 29, 0059 persen. Jumlah tersebut secara resmi juga dimaktubkan dalam surat penetapan KPU mengenai perolehan suara nasional pemilu legislatif. Total pemilih yang menggunakan hak suaranya 121.588.366 dari total daftar pemilih tetap (DPT) 171.265.442. Ada pula faktor lain yang membuat tingkat golput masyarakat seakan-akan meningkat adalah mekanisme pemilu yang bermasalah, seperti ada nama yang seharusnya terdaftar dalam DPT tapi faktanya tidak ada dalam list DPT. Seharusnya dapat memilih tapi tidak dapat memilih, ini merupakan hak kewarganegaraan yang tidak dapat dipenuhi pemerintah secara merata.

Bagaimana positioning PMKRI dalam mengawal Pemilu legislatif  9 April 2014 ?
1. Menjadi Pemantau Pemilu Independen.
2. Survey tingkat golput masyarakat di Pemilu legislatif 9 April 2014.                  

(Barliyanto-PPK)

PEMILU Ajang Memilih Merdeka Berfikir

Memilih perwakilan Wakil Rakyat dan Kepala Rakyat Lampung termasuk yang menjadi wakil dari ‘barang’ yang disebut rakyat ini. Wakil para pemulung, buruh cuci, buruh bangunan, PSK, petugas parkir, tukang sol sepatu, penjual Koran, pengamen sampai wakil dari kaum borjuis dan  jetset menjadi alasan terjadinya hal nan langka seperti lengangnya jalan protokol pada hari dan jam kerja sampai tutupnya aktivitas bisnis seantero Bandar Lampung. Suatu perhelatan besar menilai performa kader-kader dari beberapa kelompok atau lebih tepatnya orang-orang yang mengelompokkan diri didalam sesuatu dan disebut Partai. Apakah demikian? Dengan alasan nan mulia seperti mengorbankan jam kerja-kerja efektif PNS, BUMN, BUMD mengorbankan puluhan ribu dollar sampai waktu bimbingan skripsi bagi para Mahasiswa (salah satunya) demi terselenggaranya PEMILU Legislatif dan Gubernur yang akan menentukan nasib Bangsa dan Lampung 5 tahun kedepan. Pertanyaan tersebut mengusik pemikiran merdeka setiap kita.
Pengorbanan tersebut apakah sebanding dengan realisasi pesta demokrasi yang diadakan tuan rumah yaitu KPU. Tak kurang menariknya, perhelatan akbar ini menggelontorkan dana Rp 16 Triliun. Angka yang sangat fantastis dan sangat masuk akal apabila seandainya didukung oleh karakter personal tiap pihak yang ikut andil ambil bagian dalam aksi eksekusi keputusan demokrasi secara merdeka.
Pertama, Menjadi pasar bagi para pemain, yaitu ide bisnis terkini abad ini bisnis politk, perdagangan politik atau bahkan ranah liberal ‘monopoli pasar politik’ pemodal dengan modal terbesar akan memegang kedaulatan tertinggi dalam sistem kepemimpinan Negara yang dahulu disebut Harimau Asia ini. Menimbulkan rumusan baru pengelolaan kepemimpinan Negara, semakin tinggi modal yang dimiliki caleg maupun calon pemimpin daerah/Negara maka semakin megah tahta menjadi pemimpin. Bahkan menarik simpati orang banyak dengan kegiatan-kegiatan besar seperti pembagian sembako bahkan sosialisasi mengenai dasar Negara yang dibalut kampanye politik. Mungkin suatu hari nanti akan sampai pada Partai sebagai Event Organizer. Menjadi EO untuk tujuan menciptakan pencitraan dengan performa terheboh sehingga mampu menguasi pasar perpolitikan. Menjajakkan diri, merayu bahkan menjilat demi citra baik dimata publik. Lucunya Negeri ini!
Kedua, kesadaran masyarakat ‘melek politik’ yang menjadi rancu, terlalu tinggi atau sangat ‘jongkok’. “Tanpa pelicin sulit untuk bisa masuk kedalam masyarakat, slogan saat ini NPWP-Nomor piro wani piro? Menjadi karang yang bercokol kuat dalam tubuh-tubuh masyarakat, ini berkaitan dengan suara petinggi-petinggi dalam masyarakat.” (kalimat singkat dari seorang aktivis partai). Kertas dengan tertera angka nominal yang dibedakan oleh warna menjadi tiket, pelicin, sarana dan kunci utama dalam menarik simpati masyarakat. Kemerdekaan berfikir dan memilih dalam masyarakat sudah luntur dan digantikan oleh seberapa tebal biru-merahnya kertas dan/atau seberapa banyaknya pengganjal perut yang ditawarkan kader-kader kebanggaan wakil partai. Tak heran, bila nasib bangsa ini tak lebih dari urusan perut yang bertahan sebanyak nominal yang didapatkan!  
Menilik imbas Bisnis Politik, rusaknya mental masyarakat dengan larut dan hanyut dalam sistem liberalisasi politik. Transaksi jual-beli harga diri-suara dan kehormatan pilihan dengan lembaran kertas bergambar Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai bahkan Dr. Ir. Soekarno Hatta/Dr. H. Mohammad Hatta. Hal persiapan pun tak kalah lucunya yaitu persiapan Bangsal rehabilitasi dalam Rumah Sakit Jiwa (RSJ) bagi kader-kader emas partai yang tidak sanggup menghadapi berbagai kenyataan keras dengan tidak mampu menembus angka aman perolehan suara partai mulai dari pencurian suara oleh oknum sampai habisnya puing-puing harta kekayaan untuk cost politics termasuk ‘Serangan Fajar’ bahkan transaksi jual-beli surat suara. Who knows?
Biru, Merah bahkan segudang pengganjal perut yang menggantikan kemerdekaan berfikir dan memilih mungkin hanya bertahan menyambung hidup rentangan waktu tak lebih dari 1 Minggu, namun pilihan untuk tidak ‘Sesat sejak dalam pikiran’ dengan tidak menerima suguhan kertas berwarna paling tidak memberikan kesempatan untuk bangkit menuju Kemandirian Indonesia selama 5 tahun kedepan dan memungkinkan kebaikan bagi generasi mendatang dimulai dari Kemerdekaan Berfikir dan Memilih. Semoga!
 
(L. Rosinta H.P. Purba)
Sekretaris Jendral PMKRI Cab. B. Lampung 2013/2015.
 

Minggu, 13 April 2014

FEMINISME PERSEPSI R.A. KARTINI

(L. Rosinta H.P. Purba)

”Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya” (Surat Kartini kepada Nyonya Abendon, Agustus 1900)

Selayang pandang Kartini

25 tahun adalah rentangan hidup R.A. Kartini, artinya umur kemampuan gerakan nya bahkan tidaklah sepanjang umur merdekanya Bangsa Indonesia dari Penjajahan Bangsa asing, beberapa bulan kedepan Insullinde-Pulau Hindia (sebutan Indonesia pada buku “Multatuli” Max Havelaar) akan masuk dalam euforia 69 tahun kemerdekaan. Pada tanggal 21 April 1879 R.A. Kartini lahir, tumbuh dan berkembang dari keluarga terpandang Jawa. Adat istiadat dipegang teguh selama umur hidupnya, mulai dari kebiasaan tunduk dan patuh pada setiap ajaran budaya Jawa sampai dipingit! Mengisi harinya selama proses tersebut dihabiskan dengan membaca dan belajar. Baginya pendidikan adalah harga mati untuk proses pencerdasan. Hal itu dilanjutkannya pula dengan mengajarkan sahabat-sahabatnya baca-tulis. 

Perkembangan Feminisme Dunia
Feminisme adalah pergerakan menuntut kemerdekaan perempuan atau kesamaan keadilan hak dengan pria. Berasal dari bahasa Latin "femina" yaitu perempuan. Pergerakan para feminis diberbagai negara dimulai akhir abad 18 sampai awal abad 20 dengan tokohnya yang terkenal Foucault.

Menitikberatkan pada arah pergerakan kaum feminis yang sempat mendapat momentum besar sejarah tahun 1960-an dalam perkembangan ideologi "persamaan hak bagi perempuan dalam bidang politik dan ekonomi". Sistem patriarki tidaklah semanis tampilan luarnya, kaum feminis beranggapan bahwa patriarki merupakan proses memarjinalkan peran dan fungsi-fungsi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Tahapan tersebut mendapatkan respon positif dimana-mana dan disambut baik terwujud dari timbulnya kaum feminis radikal, sosialis, marxis sampai anarkis yang pada runtuhnya gerakan sporadis tersebut.

Refleksi Arah  Pergerakan Feminisme Kartini

Beberapa surat Kartini bagi sahabatnya yang sempat diabadikan, salah satunya di poskan kepada Prof. Anton dan Nyonya pada tanggal 04 Oktober 1901
"Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingn yang abadi".
Kemerdekaan perempuan yang diperjuangan Kartini bukanlah hanya sekedar perjuangan gender, artinya bukanlah untuk menghilangkan peran-peran pria dan menegaskan bahwa pria tidaklah dibutuhkan. Lebih dari itu, ada sebuah makna mulia yang menjadi dasar perjuangannya. Perempuan adalah tokoh peradaban. Dalam beberapa ajaran kepercayaan, Perempuan memiliki tempat yang khas dalam kaitannya dengan pria yaitu penolong yang sepadan. Peluang yang bisa diolah adalah begitu strategis posisi perempuan dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat  dalam penanaman nilai-nilai moral, etika dan kebaikan-kebaikan tidak terlepas dari peranan perempuan sebagai ibu bagi keluarganya, perempuan sebagai pendidik dan pengajar maupun perempuan sebagai pekerja.  Feminisme persepsi Kartini bertujuan memerdekakan pikiran perempuan, memerdekan perempuan dari setiap proses penumpulan otak.

Perempuan merdeka yang seperti apakah yang diperjuangan Kartini? Paham perempuan merdeka versi Kartini adalah mereka yang tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan dalam setiap posisi strategisnya namun tetap tegas dan teguh dalam setiap pilihan untuk hidupnya. Memiliki keberanian secara mandiri untuk menentukan dan mewujudkan apa yang menjadi passion nya tanpa intervensi dari siapapun termasuk dari budaya yang mengakar dalam darah sekalipun. Tidak lepas dari itu, penegasan Kartini dalam setiap perjuangan nya adalah kaum pria bukan menjadi musuh atau saingan yang harus dikalahkan dengan anggapan perempuan mampu dan bisa melakukan apapun tanpa pria, bukan, bukan demikian! Pria dalam persepsi Kartini, tidak jauh berbeda dengan ajaran beberapa Agama adalah menempatkan pria sebagai mitra yaitu rekan sekerja sebagai tim. Kemandirian dan kemerdekaan perempuan tidak terbatas hanya bagi kebaikan diri sendiri, kebaikan yang diterima tak ayal dibagikan pertama bagi orang terdekat. Kartini menegaskan betapa mulianya makna dan nilai dari berjuang bagi orang-orang yang tertindas. Membagikan kebaikan yang telah diterima bagi orang lain.

Akankah idealisme Kartini mampu membangkitkan gerakan kaum feminis-feminis baru yang tentu saja dilandasi feminisme versi Kartini. Gerakan memerdekakan fikiran dan cara pandang leluasa bahkan lebih "liar" para perempuan-perempuan. Melepaskan cengkeraman berfikir tentang perempuan yang "seharusnya". Perempuan bukan barang hasil olahan pabrik, barang jadi yang dibentuk untuk menjadi pelayan, melayani dalam derajat kasta terendah. Menantikan dan mengharapkan kegerakan baru dalam porsi perempuan yang lebih alami. Perempuan yang tangguh, cerdas, peka dan mampu masuk kedalam setiap sektor kehidupan bermasyarakat. Perannya yang lebih luwes dan mewarnai komunitas-komunitas terkecil sampai jangkauan terluas. Menghasilkan perempuan Ideola yang sungguh menjadi idola dalam aksi dan kepemimpinan ide 'berjuang dengan terlibat'. Semoga!